DARAKU
Selamat pagi
duniaku, indahmu menghias sejuknya hatiku. Sujudku di waktu subuh memberitahuku
bahwa alamku adalah bukti cinta dan kasih Tuhan atas diriku. Alam menyediakan
cinta yang tak terbatas karena ia adalah anugerah teristimewa. Bukan aku tertunduk
padanya tapi hanya pada penciptanya.
Kubuka
jendela kamar, dalam pejamnya mataku ini kurasakan angin meliuk sepoy menabraki
wajah dan diriku yang masih berdiri santai di depan jendela. “Terimakasih
Tuhan hari ini Kau masih memberiku kesempatan untuk hidup, menjalankan amanahMu
yang suci. Jadikanlah semua kegiatanku hari ini mulai dari kubuka mata hingga
tidur lagi nanti menjadi aktifitas yang barakah dan bermanfaat. Jaga hati,
pikiran dan diriku Tuhan. Amin!”.
Kuhela nafas
pelan, kurasakan hidup yang begitu damai bersamaku. Tak ingin kubuka mata biar
saja aku menyatu dengan alam seperti ini. Hanya dengan menutup mata, dapat
kurasakan kehadiran Tuhan dalam diriku. Dapat kurasakan nikmat yang tak kulihat
dengan mata terbuka. Segala sesuatu yang tak bisa kuraba dalam nyata, tak ada
dusta. Hanya itu saja.
Setelah
beberapa menit berlalu dalam rasaku itu, kubuka mata pelan. Cahaya surya masih
mengintip malu di ufuk timur. Dedaunan basah bergoyang indah pada tangkainya,
harum embun terbawa angin pun kuhirup. Dari jendela kamar kecilku, kusaksikan
kegagahan gunung Arjuna berdiri indah dan sangat manis menyambut pagi
bersamaku. Entah apa yang kurasakan, langit pun begitu indah pagi itu. Aku
tersenyum saja. Alam seperti memberiku energi positif membangun mimpi dan asaku
seindah rupanya yang damai.
Pagi yang
cerah membuatku sibuk membantu ibuku di dapur. Adikku masih kecil. Dia masih
butuh perhatian lebih darinya. Untungnya lembaga sekolah menengah pertamaku
masuk pada jam 12.00 siang memberiku kesempatan mulya membantu bidadari tak
bersayapku itu.
Aku tumbuh
dalam keluarga yang religius, dalam keluarga yang sederhana dengan cinta yang
sempurna. Aku menjadi siswa teladan di masa SD ku. Juara 1 selalu menjadi
langgananku. Nilai terbaik dan siswa terbaik. Hingga masuk SMP masih tetap saja
kelas unggulan menjadi tempatku. Jadi, apakah ayah dan ibuku adalah seorang
sarjana?? Pertanyaan itu begitu menggelitik bagiku. Bagaimana tidak?
Setiap
hendak tidur selalu ibuku menceritakan dongeng-dongeng. Tentang para Nabi dan
Rasul. Tentang kisah-kisah legenda dan lainnya. Ayahku selalu mengatur waktu
belajarku. Menyempatkan waktu di sela-sela pekerjaannya hanya untuk sekedar
menemaniku saat belajar, hingga aku berhasil menyabet predikat terbaik dimana
pun aku berdiri. Hanya dari itu aku belajar banyak.
Teman-temanku
heran kenapa aku begitu pandai dari pada mereka, toh mereka lebih banyak
fasilitas di rumahnya untuk belajar. Sedangkan aku? Aku hanya punya buku
sederhana dan cinta yang luar biasa. Biar saja aku berbeda itu bukti cinta
Tuhan yang harus kusyukuri bukan? Hehehe.
Ah, waktuku
di rumah ternyata sudah habis. Aku harus bersiap pindah seorang diri. Tanpa
ayah dan tanpa ibu. Bukan, aku tidak pindah rumah melainkan ayah dan ibuku
memasukkaknku ke pondok pesantren di dekat sekolah SMP ku.
Of course, aku harus rela berpisah dari teman-temanku,
sahabat kecilku, orang tuaku, keluargaku, semuanya. Itu bukan hal yang mudah.
Sungguh! Aku ini seorang anak kecil, yang masih beberapa hari terhitung menjadi
siswa SMP. Bagaimana bisa aku dipisahkan dari orang tuaku? Hidup mandiri dan
memanage semuanya sendiri?.
Hhh.. dengan
diantarkannya aku ke pesantren itu. Artinya aku harus menjalani hidupku di
sana. Baiklah. Akan kujalani hidupku dengan status baruku di Ma’had PIQ
Babussalam yakni SANTRIWATI.
PESANTRENKU
Hari
pertamaku di pesantren masih biasa-biasa saja kurasa. Mengenal banyak teman
baru, suasana baru dan gaya hidup yang baru. Beradaptasi. Hanya itu. Perlahan
tapi pasti, hari-hariku berlalu dengan belajar-belajar dan belajar. Termasuk
juga belajar memperhatikan lingkungan dan peraturan pesantrenku. Tidak ada yang
spesial sama saja seperti santri-santri yang lain.
Satu tahun
pertama, benar-benar proses yang rumit bagiku. Pertama, Aku mencoba minum air
kran seperti teman-teman santri yang lain, pada akhirnya aku sakit perut dan
muntah-muntah. Kedua, hampir setiap malam di antara sujudku Aku menangis. Bukan
Aku tak nyaman di sana melainkan itu adalah air mata rinduku pada ayah dan ibu,
ingin Aku pulang saja tapi inilah yang mereka inginkan dariku dan Aku harus
menjalaninya. Ketiga, begitu banyak karakter berbeda yang harus aku temui,
sikapi dan hadapi. Iya, berkali-kali aku salah dan berkali-kali aku jatuh
karena aku tak tahu siapa diriku sebenarnya dan apa yang harus kuperbuat?
Perlahan
bersama berjalannya waktu Aku mencoba mencari jati diriku sendiri. Aku mulai
berpikir bahwasanya Aku pasti akan tumbuh di pesantren ini, kedewasaanku akan
dibentuk di sini. Sebab itulah proses berpikirku mulai terasah pelan. 2 tahun
berjalan, hidupku mulai banyak berubah. Lingkungan pesantren mulai membentuk
diriku menjadi pribadi yang baru. Aku mulai menyadari kebanyakan gaya hidup
teman pesantrenku bak anak-anak raja. Mereka bisa membeli apapun yang mereka
mau, mereka memiliki fasilitas yang tak Aku punya. Terbersit dalam benakku “Kenapa
aku tidak seperti mereka?”.
Aku harus
menjadi baik
Aku harus
membanggakan orangtuaku
Aku harus
mendapat ilmu yang banyak sebagai bekalku kembali pulang
Perlahan
kubangun prinsipku yang sejatinya aku pun tak tahu prinsip itu apa dan apa
gunanya. Kehidupan pesantren yang indah, yang baru Aku kenal itu memaksaku
untuk berprinsip. Kenapa? Karena Aku sadar Aku bukan anak raja yang bisa
membeli apapun dan pergi kemana pun semauku. Sering setiap menjengukku ibuku
berpesan “Belajar yang benar ya nak, ibu dan bapak di rumah bekerja keras
kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala untuk membiayai pendidikan kamu”.
Pikiran polosku tak berkutik sedikit pun, semua unsur dalam diriku meng-iyakan
pesan dan nasihat itu.
Sekali lagi
aku mencoba mencerna kenapa ibuku sering memberiku nasihat seperti itu? Aku
melihat teman-temanku yang lain begitu enjoy, setiap kali dijenguk orangtuanya
mereka santai saja. Tidak perlu menerima nasihat ini dan itu layaknya aku. Dan
benar, aku masih tetap berbeda dimana pun aku berdiri. Yang Aku tahu hanya
prinsip itu penting.
Aku tidak
pernah absen mengikuti pengajian bersama Abah
apapun itu. Setiap sore setelah melaksanakan jama’ah shalat ashar, pengajian
tafsir dilaksanakan. Aku bergegas bersiap namun saat berangkat selalu Aku tak
dapat sendal.
Aku tak tahu siapa yang memakai sendalku, hingga aku sering terlambat datang di
kelas karena aku masih harus mencari sendal bekas yang tersisa meski tak layak
pakai. Biar saja Aku menggunakannya demi sepercik ilmu yang ingin kudapat dari
Abah.
Aku tetap
semangat meski Aku belum mempunyai kitab tafsir karena orangtuaku belum
membelikannya, namun Aku masih beruntung salah satu teman sekamarku namanya
Minatin. Aku sering memanggilnya Mbak Ten meminjamiku kitab tafsirnya. Dia
bilang meski dia tidak sempat mengikuti pengajian karena sibuk membantu Ibunyai
dia ingin kitab tafsirnya itu terisi. Dan ya, Aku mengisi sesuai permintaanya,
gampang bukan?.
Sebelum
masuk pesantren Aku sudah memiliki bekal cara memaknai kitab-kitab pesantren.
Aku sudah mahir melakukannya dan itu menjadi salah satu alasanku untuk percaya
diri di tengah gaya hidup teman-temanku itu.
Dalam
pengajiannya, kusimak dengan seksama segala apa yang diucapkan oleh Abah. “Anak-anakku,
bacalah Al-qur’an. Jaman sudah begini, dimana-mana banyak pengangguran. Bahkan
yang bergelar sarjana pun sudah banyak yang menganggur. Iya, sekarang kalian
masih enak, uang habis tinggal telpon. Butuh apa-apa tinggal telpon. Tapi suatu
saat nanti kalian akan dewasa akan memikul tanggung jawab kalian sendiri.
Bayangkan, sekarang tahun 2008 yang diminta anak jaman sekarang sudah hp dan
motor. Bagaimana dengan jaman anak-anak kalian nanti. Apa yang kiranya akan
mereka minta? Mungkin paling sederhana anak-anak kalian nanti akan minta
dibelikan rumah.” Tutur Abah dengan tersenyum ringan.
“Leh, Nduk.
Percaya sama Abah. Apa yang mau kita andalkan selain Allah? Bacalah Al-qur’an
niscaya sesulit apapun kalian Allah akan kasih tempat untuk kalian. Sesempit
apapun dunia ini Allah kasih tempat untuk kalian. Misalnya, kalian naik bus
yang sudah full, secara akal kalian tidak akan mendapatkan tempat duduk tapi
karena Allah memberikan tempat maka duduklah kalian dengan nyaman di tengah
padatnya manusia di dalam bus itu. Nduk, Leh, kita tidak pernah tahu bagaimana
bentuk barakah. Berkahnya Al-qur’an itu dahsyat dan luar biasa, Karena
Al-qur’an adalah kalam Allah. Allah yang menjaganya langsung. Bacalah dengan
hati setiap hari. Berkah Al-qur’an akan menghiasi hidupmu. Percayalah!”.
“Abah ini
sudah sepuh. Abah sudah mengenyam pahit manis dan asam garam kehidupan. Kalo
jadi santri ya harus tirakat. Ojok mangan turu ngeseng, mangan turu ngeseng tok
ae (Jangan makan tidur ke wc, makan tidur ke wc saja). Tirakat yo nduk, leh
tirakat. Jadi santri itu sing penting jama’ah sholat, tirakat dan shodaqoh.
Karena shalat berjama’ah terhitung pahalanya 27 derajat, sudah berbeda kan?
Dengan berjama’ah kalian sudah mendapakan 27 derajat
jelas berbeda dengan orang yang suka sholat munfaridan.
Selanjutnya tirakat, mbok ya puasa, bangun malam shalat tahajjud hanya berdua
dengan Allah. Dan jangan lupa shodaqoh di setiap waktumu.” Lanjut Abah dalam penjelasannya di
sela-sela pengajian kitab tafsir sore itu.
Ya,
begitulah Abah. Beliau sangat sederhana. Beliau mengajarkan inti-inti dari
kehidupan. Dan shodaqoh atau sedekah (berbagi) adalah berlaku di segala
agama, dan itu menjadi salah satu kunci dari hidup itu sendiri.
Setiap
pengajian tafsir berlangsung, tak lupa kutulis poin-poin penting pada catatan
pribadiku. Aku tak boleh mencorat-coret kitab orang selain hanya memaknainya
saja. Untuk itulah aku selalu membawa secarik kertas saja, setidaknya cukup
untuk kutulis poin yang ingin kutulis.
Semakin hari
semakin bertambah waktu belajarku tentang agama terlebih belajar bersama Abah
dengan mengikuti setiap pengajiannya. Semakin pula ilmu agama kudalami. Cintaku
pada Al-qur’an semakin tumbuh, rasa bangga menjadi seorang muslimah semakin
hadir dalam diriku. Setiap hari kuhampiri rak Al-qur’an di kamarku, kuambil
dengan hormat lalu kuciumnya dan kubacanya. Dengan begitu Aku yang masih kecil
dan labil seakan mulai mengenal Tuhannya dengan lebih jauh. Dan Aku bersyukur.
3 tahun
sudah tak terasa aku menjadi seorang santri, hingga detik ini kenyataan yang
tak sesuai di mataku tak menggoyahkan prinsipku sedikit pun. Aku masih tetap
menjadi santri terbaik di kelasku. Hingga dalam suatu waktu diadakan lomba cerdas
cermat, tim ku menjadi juara 1. Predikat terbaik masih tetap bersamaku bukan?
Mungkin itu karena Aku hanya menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang siswa
dan juga santri, tidak memperdulikan aksi-aksi yang tidak kusuka. Setidaknya
aku mempraktekkan bahwa sebelum hak itu ada tanggung jawab. Dan Aku suka.
Aku mulai
mendalami salah satu alat musik tradisional yaitu Al-banjari. Sembari sibuk
belajar alat musik tersebut di pesantren, buku-buku karya Kang Abik
mulai sering kubaca disela-sela waktu istirahatku. Karyanya yang melejit
menjadikanku mulai suka membaca novel dan atau buku-buku fiksi atau sejenisnya.
Ya, sebelumnya Aku tidak pernah suka membaca buku selain buku-buku pelajaran di
sekolah maupun di pesantren. Namun novel-novel cinta Kang Abik telah
membuatku jatuh cinta pada sebuah karya tulis bebas.
Dari itu
imajinasiku mulai berkembang, hayalku tentang sebuah kisah mulai memenuhi
otakku hingga Aku tak dapat membendungnya lagi. Hingga suatu hari kuputuskan
untuk mencurahkannya pada sebuah tulisan sederhana saja. Kucari buku kosong,
kupilah-pilah rak bukuku dengan cepat. Ternyata Aku tak punya. Uangku tidak
cukup untuk membeli buku tulis, baiklah Aku bisa memakai buku bekas pelajaran
yang masih cukup ruang untuk kutuangkan tulisan.
Mulailah
kutulis kisah yang tersusun rapi dalam otakku itu, dengan penuh kebebasan Aku
menulisnya. Kata demi kata, kalimat demi kalimat mulai memenuhi garis-garis
pada lembar buku. Hayalku seketika berjalan cepat, imajinasiku seakan meledak
menjalankan tanganku menulis dengan begitu cepatnya dan tanpa henti.
Diksiku
masih terpengaruh oleh gaya tulisan Kang Abik. Romantisme kisah serta
alurnya pun tak jauh beda. Dalam benakku Aku bukan seorang penulis, Aku hanya
tak mampu membendung imajiku hingga kucoba melampiaskannya dalam sebuah tulisan
sederhana. Aku tidak peduli dengan diksi, alur dan sebagainya. Yang Aku tahu
adalah Aku menulis kisah yang indah yang ada dalam otakku. Only that.
18 Oktober 2008,
Aku berhasil menyelesaikan satu buku. Yang kusebut dengan tulisan amatirku.
Kuberinya judul “Bunga-bunga Cinta”, entah apa yang terjadi.
Teman-temanku mulai suka membacanya. Dipinjam sana-sini, dari kamar satu ke
kamar yang lain. Tulisan amatirku itu mulai buming di pesantren, teman-teman
mulai membicarakannya memberinya kritik dan saran dan ada saja dari mereka yang
menangis terbawa suasana.
Hey, apa
yang sudah kulakukan? Aku tidak mengerti cara menulis yang baik namun orang
lain bisa terbawa emosi saat membacanya? That’s so amazing to me. But I just
smile. Memiliki tulisan yang dibaca orang bukan berarti Aku puas denganya
saja. 10 Mei 2009 Aku menyelesaikan buku ke 2 ku. Kuberinya judul “Saat-saat
Terakhir”. Kembali laris dibaca teman-temanku di pesantren. Entah Aku mulai
bermimpi untuk menjadi seorng penulis seperti Kang Abik dan para novelis
lain yang sudah kubaca buku-bukunya. Ya, Aku mulai mematrikan mimpi itu dalam
hatiku yang terdalam. Hingga sampai di tahun 2011 dibawah alam sadarku yang
mulai gila menulis itu terkumpul 12 buku tulisanku dengan judul yang
berbeda-beda.
This so
impossible. How can i do? I don’t know why, I just feel I love writing. Hingga pada akhirnya seluruh isi pesantren
putri memanggilku dengan sebutan “Pengarang dan Penulis”. Menanggapi keadaan
itu Aku tersenyum saja, tapi dalam benakku ini gila. Ini benar-benar gila!
Sebuah mimpi menggerakkanku tanpa batas. Tanpa batas..
Bersambung..