Senin, 13 Juli 2020

CERPEN TENTANG MIMPI (NOVEL)



DARAKU

Selamat pagi duniaku, indahmu menghias sejuknya hatiku. Sujudku di waktu subuh memberitahuku bahwa alamku adalah bukti cinta dan kasih Tuhan atas diriku. Alam menyediakan cinta yang tak terbatas karena ia adalah anugerah teristimewa. Bukan aku tertunduk padanya tapi hanya pada penciptanya.

Kubuka jendela kamar, dalam pejamnya mataku ini kurasakan angin meliuk sepoy menabraki wajah dan diriku yang masih berdiri santai di depan jendela. “Terimakasih Tuhan hari ini Kau masih memberiku kesempatan untuk hidup, menjalankan amanahMu yang suci. Jadikanlah semua kegiatanku hari ini mulai dari kubuka mata hingga tidur lagi nanti menjadi aktifitas yang barakah dan bermanfaat. Jaga hati, pikiran dan diriku Tuhan. Amin!”.

Kuhela nafas pelan, kurasakan hidup yang begitu damai bersamaku. Tak ingin kubuka mata biar saja aku menyatu dengan alam seperti ini. Hanya dengan menutup mata, dapat kurasakan kehadiran Tuhan dalam diriku. Dapat kurasakan nikmat yang tak kulihat dengan mata terbuka. Segala sesuatu yang tak bisa kuraba dalam nyata, tak ada dusta. Hanya itu saja.

Setelah beberapa menit berlalu dalam rasaku itu, kubuka mata pelan. Cahaya surya masih mengintip malu di ufuk timur. Dedaunan basah bergoyang indah pada tangkainya, harum embun terbawa angin pun kuhirup. Dari jendela kamar kecilku, kusaksikan kegagahan gunung Arjuna berdiri indah dan sangat manis menyambut pagi bersamaku. Entah apa yang kurasakan, langit pun begitu indah pagi itu. Aku tersenyum saja. Alam seperti memberiku energi positif membangun mimpi dan asaku seindah rupanya yang damai.

Pagi yang cerah membuatku sibuk membantu ibuku di dapur. Adikku masih kecil. Dia masih butuh perhatian lebih darinya. Untungnya lembaga sekolah menengah pertamaku masuk pada jam 12.00 siang memberiku kesempatan mulya membantu bidadari tak bersayapku itu.

Aku tumbuh dalam keluarga yang religius, dalam keluarga yang sederhana dengan cinta yang sempurna. Aku menjadi siswa teladan di masa SD ku. Juara 1 selalu menjadi langgananku. Nilai terbaik dan siswa terbaik. Hingga masuk SMP masih tetap saja kelas unggulan menjadi tempatku. Jadi, apakah ayah dan ibuku adalah seorang sarjana?? Pertanyaan itu begitu menggelitik bagiku. Bagaimana tidak?

Setiap hendak tidur selalu ibuku menceritakan dongeng-dongeng. Tentang para Nabi dan Rasul. Tentang kisah-kisah legenda dan lainnya. Ayahku selalu mengatur waktu belajarku. Menyempatkan waktu di sela-sela pekerjaannya hanya untuk sekedar menemaniku saat belajar, hingga aku berhasil menyabet predikat terbaik dimana pun aku berdiri. Hanya dari itu aku belajar banyak.

Teman-temanku heran kenapa aku begitu pandai dari pada mereka, toh mereka lebih banyak fasilitas di rumahnya untuk belajar. Sedangkan aku? Aku hanya punya buku sederhana dan cinta yang luar biasa. Biar saja aku berbeda itu bukti cinta Tuhan yang harus kusyukuri bukan? Hehehe.

Ah, waktuku di rumah ternyata sudah habis. Aku harus bersiap pindah seorang diri. Tanpa ayah dan tanpa ibu. Bukan, aku tidak pindah rumah melainkan ayah dan ibuku memasukkaknku ke pondok pesantren di dekat sekolah SMP ku.

Of course, aku harus rela berpisah dari teman-temanku, sahabat kecilku, orang tuaku, keluargaku, semuanya. Itu bukan hal yang mudah. Sungguh! Aku ini seorang anak kecil, yang masih beberapa hari terhitung menjadi siswa SMP. Bagaimana bisa aku dipisahkan dari orang tuaku? Hidup mandiri dan memanage semuanya sendiri?.

Hhh.. dengan diantarkannya aku ke pesantren itu. Artinya aku harus menjalani hidupku di sana. Baiklah. Akan kujalani hidupku dengan status baruku di Ma’had PIQ Babussalam yakni SANTRIWATI.     

  

 

 

 

 

 

 

 

PESANTRENKU

Hari pertamaku di pesantren masih biasa-biasa saja kurasa. Mengenal banyak teman baru, suasana baru dan gaya hidup yang baru. Beradaptasi. Hanya itu. Perlahan tapi pasti, hari-hariku berlalu dengan belajar-belajar dan belajar. Termasuk juga belajar memperhatikan lingkungan dan peraturan pesantrenku. Tidak ada yang spesial sama saja seperti santri-santri yang lain.

Satu tahun pertama, benar-benar proses yang rumit bagiku. Pertama, Aku mencoba minum air kran seperti teman-teman santri yang lain, pada akhirnya aku sakit perut dan muntah-muntah. Kedua, hampir setiap malam di antara sujudku Aku menangis. Bukan Aku tak nyaman di sana melainkan itu adalah air mata rinduku pada ayah dan ibu, ingin Aku pulang saja tapi inilah yang mereka inginkan dariku dan Aku harus menjalaninya. Ketiga, begitu banyak karakter berbeda yang harus aku temui, sikapi dan hadapi. Iya, berkali-kali aku salah dan berkali-kali aku jatuh karena aku tak tahu siapa diriku sebenarnya dan apa yang harus kuperbuat?

Perlahan bersama berjalannya waktu Aku mencoba mencari jati diriku sendiri. Aku mulai berpikir bahwasanya Aku pasti akan tumbuh di pesantren ini, kedewasaanku akan dibentuk di sini. Sebab itulah proses berpikirku mulai terasah pelan. 2 tahun berjalan, hidupku mulai banyak berubah. Lingkungan pesantren mulai membentuk diriku menjadi pribadi yang baru. Aku mulai menyadari kebanyakan gaya hidup teman pesantrenku bak anak-anak raja. Mereka bisa membeli apapun yang mereka mau, mereka memiliki fasilitas yang tak Aku punya. Terbersit dalam benakku “Kenapa aku tidak seperti mereka?”.

Aku harus menjadi baik

Aku harus membanggakan orangtuaku

Aku harus mendapat ilmu yang banyak sebagai bekalku kembali pulang

Perlahan kubangun prinsipku yang sejatinya aku pun tak tahu prinsip itu apa dan apa gunanya. Kehidupan pesantren yang indah, yang baru Aku kenal itu memaksaku untuk berprinsip. Kenapa? Karena Aku sadar Aku bukan anak raja yang bisa membeli apapun dan pergi kemana pun semauku. Sering setiap menjengukku ibuku berpesan “Belajar yang benar ya nak, ibu dan bapak di rumah bekerja keras kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala untuk membiayai pendidikan kamu”. Pikiran polosku tak berkutik sedikit pun, semua unsur dalam diriku meng-iyakan pesan dan nasihat itu.

Sekali lagi aku mencoba mencerna kenapa ibuku sering memberiku nasihat seperti itu? Aku melihat teman-temanku yang lain begitu enjoy, setiap kali dijenguk orangtuanya mereka santai saja. Tidak perlu menerima nasihat ini dan itu layaknya aku. Dan benar, aku masih tetap berbeda dimana pun aku berdiri. Yang Aku tahu hanya prinsip itu penting.

Aku tidak pernah absen mengikuti pengajian bersama Abah[1] apapun itu. Setiap sore setelah melaksanakan jama’ah shalat ashar, pengajian tafsir dilaksanakan. Aku bergegas bersiap namun saat berangkat selalu Aku tak dapat sendal[2]. Aku tak tahu siapa yang memakai sendalku, hingga aku sering terlambat datang di kelas karena aku masih harus mencari sendal bekas yang tersisa meski tak layak pakai. Biar saja Aku menggunakannya demi sepercik ilmu yang ingin kudapat dari Abah.

Aku tetap semangat meski Aku belum mempunyai kitab tafsir karena orangtuaku belum membelikannya, namun Aku masih beruntung salah satu teman sekamarku namanya Minatin. Aku sering memanggilnya Mbak Ten meminjamiku kitab tafsirnya. Dia bilang meski dia tidak sempat mengikuti pengajian karena sibuk membantu Ibunyai dia ingin kitab tafsirnya itu terisi. Dan ya, Aku mengisi sesuai permintaanya, gampang bukan?.

Sebelum masuk pesantren Aku sudah memiliki bekal cara memaknai kitab-kitab pesantren. Aku sudah mahir melakukannya dan itu menjadi salah satu alasanku untuk percaya diri di tengah gaya hidup teman-temanku itu.

Dalam pengajiannya, kusimak dengan seksama segala apa yang diucapkan oleh Abah. “Anak-anakku, bacalah Al-qur’an. Jaman sudah begini, dimana-mana banyak pengangguran. Bahkan yang bergelar sarjana pun sudah banyak yang menganggur. Iya, sekarang kalian masih enak, uang habis tinggal telpon. Butuh apa-apa tinggal telpon. Tapi suatu saat nanti kalian akan dewasa akan memikul tanggung jawab kalian sendiri. Bayangkan, sekarang tahun 2008 yang diminta anak jaman sekarang sudah hp dan motor. Bagaimana dengan jaman anak-anak kalian nanti. Apa yang kiranya akan mereka minta? Mungkin paling sederhana anak-anak kalian nanti akan minta dibelikan rumah.” Tutur Abah dengan tersenyum ringan.

“Leh, Nduk. Percaya sama Abah. Apa yang mau kita andalkan selain Allah? Bacalah Al-qur’an niscaya sesulit apapun kalian Allah akan kasih tempat untuk kalian. Sesempit apapun dunia ini Allah kasih tempat untuk kalian. Misalnya, kalian naik bus yang sudah full, secara akal kalian tidak akan mendapatkan tempat duduk tapi karena Allah memberikan tempat maka duduklah kalian dengan nyaman di tengah padatnya manusia di dalam bus itu. Nduk, Leh, kita tidak pernah tahu bagaimana bentuk barakah. Berkahnya Al-qur’an itu dahsyat dan luar biasa, Karena Al-qur’an adalah kalam Allah. Allah yang menjaganya langsung. Bacalah dengan hati setiap hari. Berkah Al-qur’an akan menghiasi hidupmu. Percayalah!”.

“Abah ini sudah sepuh. Abah sudah mengenyam pahit manis dan asam garam kehidupan. Kalo jadi santri ya harus tirakat. Ojok mangan turu ngeseng, mangan turu ngeseng tok ae (Jangan makan tidur ke wc, makan tidur ke wc saja). Tirakat yo nduk, leh tirakat. Jadi santri itu sing penting jama’ah sholat, tirakat dan shodaqoh. Karena shalat berjama’ah terhitung pahalanya 27 derajat, sudah berbeda kan? Dengan berjama’ah kalian sudah mendapakan 27 derajat[3] jelas berbeda dengan orang yang suka sholat munfaridan[4]. Selanjutnya tirakat, mbok ya puasa, bangun malam shalat tahajjud hanya berdua dengan Allah. Dan jangan lupa shodaqoh di setiap waktumu.” Lanjut Abah dalam penjelasannya di sela-sela pengajian kitab tafsir sore itu.

Ya, begitulah Abah. Beliau sangat sederhana. Beliau mengajarkan inti-inti dari kehidupan. Dan shodaqoh atau sedekah (berbagi) adalah berlaku di segala agama, dan itu menjadi salah satu kunci dari hidup itu sendiri.

Setiap pengajian tafsir berlangsung, tak lupa kutulis poin-poin penting pada catatan pribadiku. Aku tak boleh mencorat-coret kitab orang selain hanya memaknainya saja. Untuk itulah aku selalu membawa secarik kertas saja, setidaknya cukup untuk kutulis poin yang ingin kutulis.

Semakin hari semakin bertambah waktu belajarku tentang agama terlebih belajar bersama Abah dengan mengikuti setiap pengajiannya. Semakin pula ilmu agama kudalami. Cintaku pada Al-qur’an semakin tumbuh, rasa bangga menjadi seorang muslimah semakin hadir dalam diriku. Setiap hari kuhampiri rak Al-qur’an di kamarku, kuambil dengan hormat lalu kuciumnya dan kubacanya. Dengan begitu Aku yang masih kecil dan labil seakan mulai mengenal Tuhannya dengan lebih jauh. Dan Aku bersyukur.

3 tahun sudah tak terasa aku menjadi seorang santri, hingga detik ini kenyataan yang tak sesuai di mataku tak menggoyahkan prinsipku sedikit pun. Aku masih tetap menjadi santri terbaik di kelasku. Hingga dalam suatu waktu diadakan lomba cerdas cermat, tim ku menjadi juara 1. Predikat terbaik masih tetap bersamaku bukan? Mungkin itu karena Aku hanya menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang siswa dan juga santri, tidak memperdulikan aksi-aksi yang tidak kusuka. Setidaknya aku mempraktekkan bahwa sebelum hak itu ada tanggung jawab. Dan Aku suka.

Aku mulai mendalami salah satu alat musik tradisional yaitu Al-banjari. Sembari sibuk belajar alat musik tersebut di pesantren, buku-buku karya Kang Abik mulai sering kubaca disela-sela waktu istirahatku. Karyanya yang melejit menjadikanku mulai suka membaca novel dan atau buku-buku fiksi atau sejenisnya. Ya, sebelumnya Aku tidak pernah suka membaca buku selain buku-buku pelajaran di sekolah maupun di pesantren. Namun novel-novel cinta Kang Abik telah membuatku jatuh cinta pada sebuah karya tulis bebas.

Dari itu imajinasiku mulai berkembang, hayalku tentang sebuah kisah mulai memenuhi otakku hingga Aku tak dapat membendungnya lagi. Hingga suatu hari kuputuskan untuk mencurahkannya pada sebuah tulisan sederhana saja. Kucari buku kosong, kupilah-pilah rak bukuku dengan cepat. Ternyata Aku tak punya. Uangku tidak cukup untuk membeli buku tulis, baiklah Aku bisa memakai buku bekas pelajaran yang masih cukup ruang untuk kutuangkan tulisan.

Mulailah kutulis kisah yang tersusun rapi dalam otakku itu, dengan penuh kebebasan Aku menulisnya. Kata demi kata, kalimat demi kalimat mulai memenuhi garis-garis pada lembar buku. Hayalku seketika berjalan cepat, imajinasiku seakan meledak menjalankan tanganku menulis dengan begitu cepatnya dan tanpa henti.

Diksiku masih terpengaruh oleh gaya tulisan Kang Abik. Romantisme kisah serta alurnya pun tak jauh beda. Dalam benakku Aku bukan seorang penulis, Aku hanya tak mampu membendung imajiku hingga kucoba melampiaskannya dalam sebuah tulisan sederhana. Aku tidak peduli dengan diksi, alur dan sebagainya. Yang Aku tahu adalah Aku menulis kisah yang indah yang ada dalam otakku. Only that.

  18 Oktober 2008, Aku berhasil menyelesaikan satu buku. Yang kusebut dengan tulisan amatirku. Kuberinya judul “Bunga-bunga Cinta”, entah apa yang terjadi. Teman-temanku mulai suka membacanya. Dipinjam sana-sini, dari kamar satu ke kamar yang lain. Tulisan amatirku itu mulai buming di pesantren, teman-teman mulai membicarakannya memberinya kritik dan saran dan ada saja dari mereka yang menangis terbawa suasana.

Hey, apa yang sudah kulakukan? Aku tidak mengerti cara menulis yang baik namun orang lain bisa terbawa emosi saat membacanya? That’s so amazing to me. But I just smile. Memiliki tulisan yang dibaca orang bukan berarti Aku puas denganya saja. 10 Mei 2009 Aku menyelesaikan buku ke 2 ku. Kuberinya judul “Saat-saat Terakhir”. Kembali laris dibaca teman-temanku di pesantren. Entah Aku mulai bermimpi untuk menjadi seorng penulis seperti Kang Abik dan para novelis lain yang sudah kubaca buku-bukunya. Ya, Aku mulai mematrikan mimpi itu dalam hatiku yang terdalam. Hingga sampai di tahun 2011 dibawah alam sadarku yang mulai gila menulis itu terkumpul 12 buku tulisanku dengan judul yang berbeda-beda.

This so impossible. How can i do? I don’t know why, I just feel I love writing. Hingga pada akhirnya seluruh isi pesantren putri memanggilku dengan sebutan “Pengarang dan Penulis”. Menanggapi keadaan itu Aku tersenyum saja, tapi dalam benakku ini gila. Ini benar-benar gila! Sebuah mimpi menggerakkanku tanpa batas. Tanpa batas.. 

Bersambung..

   

     



[1] Panggilan santri kepada Kyai di Pesantrenku

[2] Alas kaki

[3] Derajat dalam bahasa Jawa diartikan sebagai pangkat / kedudukan

[4] Sendirian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar