Tema : Budaya dan kearifan local
Jemariku menari indah di atas keyboard laptop hitam milikku. “Klik klik klik” suara itu terdengar terus dan tanpa henti. Otak dan jiwaku mengalir dan menyatu dalam satu alur yang sama untuk menyelesaikan satu produk besar yang tidak murah harganya yang hanya bisa dinikmati oleh mahasiswa tingkat akhir. Ya, itulah skripsi yang sering kusebut dengan “skripsweet”.
Detik-detik menjelang sidang skripsi, semakin aku berpacu dengan waktu untuk mengejar deadline dan refisi. Dengan kerja keras dan penuh semangat serta tak kunjung menyerah meski harus berselimut air mata dalam suka duka sebagai mahasiswa akhir, akhirnya Tuhan pun memberi jawaban yang terbaik. Dia mengijinkanku lulus dan menjadi sarjana muda lewat keputusan sidang, dalam waktu kurang dari 4 tahun dengan tittle Cumlaude di Fakultas Agama Islam jurusan Pendidikan Bahasa Arab berhasil kudapatkan.
Hari itu ketika makan malam bersama ayah dan ibu, aku mengucap terimakasih yang dalam pada dua bidadari tak bersayapku itu karena telah memberiku pendidikan yang layak hingga sampai pada tingkat Sarjana. Bersama itu ketika ayah dan ibu tersenyum lega dan bangga, semakin kubulatkan tekad untuk menjadi sukses tanpa batas agar bisa kubahagiakan mereka suatu hari nanti.
Sembari menunggu wisuda yang masih 5 bulan lagi digelar, tepatnya di bulan Desember nanti, entah apa yang terjadi pada keluargaku. Di bulan yang sama dengan berkhirnya sidang skripsiku Ibu dan ayahku sakit hingga tak bisa mengurus usahanya. Tak butuh waktu lama usahanya pun gulung tikar alias bangkrut. Semuanya habis terjual untuk biaya berobat mereka berdua hingga hutang dimana-mana.
Semua yang terjadi bak badai yang begitu besar menghantam dengan begitu cepat dan tanpa ampun pada keluargaku. Mengobrak-abrik dan mencoba meluluh lantakkan segalanya. Hingga tak ada yang bisa kukatakan bahkan pada diriku sendiri kecuali hanya satu kalimat sederhana yang setiap hari kuberkata dalam diam, “Apa yang sedang Kau lakukan Tuhan? Apa yang Kau mau??!..
Begitu mirisnya hati ini harus melihat ayah dan ibu sakit dan tak berdaya di atas tempat tidur tanpa penyakit yang jelas. Penyakit mereka tak diketahui oleh medis. Sungguh aneh tapi itu semua nyatanya ada dan terjadi. Aku terlahir sebagai keturunan Jawa tulen, aku percaya apa yang terjadi pada orang tuaku itu adalah ulah manusia-manusia usil yang tak bertanggung jawab. Bagi sebagian masyarakat Jawa ilmu “Kejawen”[1] memang masih diyakini dan dilakukan hingga sekarang. Soal digunakan untuk kebaikan atau keburukan itu tergantung siapa yang menggunakannya.
Dan tentu aku tak menampik bahwa hal buruk itulah yang sedang terjadi pada orang tuaku. Akalku harus benar-benar bisa memahami itu semua. Setiap hari dan setiap menitku, selalu kucoba untuk memahami keadaan yang begitu mengerikan yang sedang terjadi dalam keluarga kecilku ini. Harus kuterima kebangkrutan orang tuaku dengan segala banyak hutangnya hingga setiap hari harus kuterima tamu yang silih berganti datang dan pergi menagih hutang.
Miris hatiku merasakannya. Semua sudah berubah dalam waktu sekejap saja. Berubah 360°. Hingga tak ragu kusimpulkan pada diriku sendiri jika keluargaku memang sudah hancur, sudah hancur..
Bersama dengan itu, di waktu yang sama. Masyarakat mendaulat diri ini menjadi bagian penting dalam pendirian Yayasan Pendidikan sekaligus lembaganya. Sedangkan pikiran dan tenagaku sudah habis setiap hari memikirkan segala problema keluargaku, karena di satu sisi harus ku urus ayah dan ibu, sedangkan disisi lain harus kuurus adikku yang menetap di pesantren sekiranya dia harus tetap tenang di sana meski badai ini masih menyelimuti keluargaku. Lalu di sisi yang lain, aku harus membantu masyarakat menyelesaikan misinya itu.
Bukan aku tak mau, hanya aku mulai tersadar bahwa Tuhan sedang mengajariku banyak hal tentang kehidupan ini. Benar, sebelumnya keluargaku adalah keluarga yang bermartabat dan terhormat. Namun ketika badai datang, sungguh semuanya hilang dan tak bersisa. Jangankan uang, kehormatan pun tak ada. Mulai saat itu ayahku berhenti menjadi khatib di masjid, ibuku berhenti mengikuti segala macam aktifitas kehidupannya baik sosial maupun keagamaan. Dan hanya aku yang masih memilih untuk bertahan mengajar anak-anak desa ini belajar Al-Qur’an yang sudah kujalani sejak dulu kududuk di bangku SMA kelas 2.
Ketika semuanya hilang, ketika semuanya tak ada lalu apalagi yang bisa kuharapkan? Setiap hari kujalani kehidupan yang penuh sesak di dada. Harus kujalani keadaan yang bukan lagi pandai memaksa, namun sanggup membunuhku pelan-pelan. Semuanya rumit, sangat rumit! Berat kaki ini melangkah, sakit pikiran ini untuk berpikir lagi dan lagi, sudah remuk hati ini untuk bisa merasa. Inginku enyah saja. Inginku pergi saja dari semua ini. Tapi apalah daya, sebagian masyarakat masih menahanku di sini dan sebagian yang lain bersorak sorai melihat menghina dan mencaci maki diriku dan keluargaku. Gelap sangat gelap!!
Bak simalakama. Tiada keputusan yang bisa kuambil. Jika kutinggalkan Yayasan dan lembaga yang masih bayi ini apa yang nanti terjadi? Tak ada satu pun orang yang bisa mengurusinya baik untuk administrasi dan atau kelegalitasannya. Masyarakat bergantung padaku sepenuhnya. Namun di satu sisi yang lain, aku lelah dengan ocehan dan hinaan yang bertubi-tubi datang karena aku adalah anak seorang penghutang. Meski sejatinya tak ada sangkut pautku dengan masalah orang tuaku itu.
Benci. Ya, aku benci dengan keadaan ini. Tak ada satu pun orang bahkan tak ada sanak keluarga yang peduli dengan hancurnya keluargaku. Semua seakan memasang kaca mata hitam bersama-sama. Hehh.. tertawa saja diriku menyaksikan mereka sambil terus kujalani langkah demi langkah hidup ini. Menjalani apa yang harus kujalani meski tak tahu lagi kemana badai ini akan membawaku pergi.
***
Berselang beberapa bulan, sampailah akhirnya di hari aku diwisuda sebagai sarjana muda. Bersamanya tanggung jawabku mulai diperhitungkan. Budaya membentuk paradigma yang berbeda, mengunggulkan setiap mereka yang berijazah lebih tinggi. Terlebih bagi masyarakat pedesaan yang awam akan pendidikan. Bagi mereka sarjana adalah manusia paling pintar yang harus dihormati dimana pun dia berada. Tak hayal banyak pemuda pemudi yang berhasil lulus sebagai sarjana kemudian pulang ke kampungnya dan jadilah mereka superstars yang tiada duanya.
Namun tidak bagiku, problem yang pelik ini pelan-pelan membuatku rapuh, hilang arah dan tujuan. Semakin hari masa depan yang indah semakin tampak samar bagiku. Terpuruk sendiri dan mulai hancur pelan-pelan seperti kayu dimakan rayap. Pelan tapi pasti akan hancur dan rusak.
Tak satu teman atau sahabat yang tahu bagaimana deritaku. Pandai aku sembunyikan segala urusan pribadiku. Kuputuskan untuk tidak membuat orang lain sedih karenaku, atau ikut susah karena diriku. Biar saja. Cukup kamar kecilku dan lembaran-lembaran diary menjadi saksi bisu atas air mata duka dan bahagiaku selama ini.
Muak diarasa. Bosan sudah menjadi biasa. Tak ada yang bisa menolak apapun yang baik dan buruk ketika Tuhan menghendakinya terjadi maka terjadilah. Akal ini lemah karena aku manusia biasa, aku bisa tumbang kapan saja ketika aku tak sanggup menahan duka. Tapi dalam hati ini tersimpan iman yang sesungguhnya meski setiap hari hati dan pikiranku tak hentinya bertengkar menghakimi Tuhan marah padaNya dan juga pada orang-orang yang hanya bisa mencemooh tanpa rasa malu. Aku tidak terlahir dari keluarga yang terhina melainkan dari keluarga yang arif dan bijaksana. Itulah kenapa, aku belajar untuk memeluk badai dan terus berjalan.. terus berjalan untuk melihat bagaimana sinar matahari itu akan datang.
Berkali-kali kucoba melepas jubah kebesaranku dengan segala jabatan dan kehormatan yang masih menyatu dengan diriku. Karena aku muak dengan mereka yang menghujam diri ini tapi lupa bahwa kedua tanganku ini sudah menumbuhkan anak-anak mereka untuk belajar mengenal Tuhan dengan lebih dekat. Mereka melupakan segalanya karena kesalahan orang tuaku yang memiliki banyak hutang. Biar, biar aku menjadi orang biasa layaknya orang awam lainnya yang hanya disibukkan dengan urusan-urusan pribadinya saja. Tak ada sosial dan tak ada keagamaan. Tak ada organisasi dan tak ada peduli. Biar aku merdeka saja dengan urusan-urusanku sendiri tanpa embel-embel masyarakat dan organisasi.
Setiap kali kucoba dengan berbagai cara tapi setiap itu juga aku tak bisa. Selalu keadaan berbelok lagi dan lagi. Hingga murkaku sendiri tak bisa kuhindari.
“Semua ini gila. Semua ini gila!!” geramku dalam hati.
“Sebenarnya aku ini dimana? Sebenarnya salahku ini apa? Tuhan.. apa maksudmu?? Kau beri aku cobaan seberat ini padaku. Kau ijinkan badai ini datang pada keluargaku Tuhan. Lalu kenapa Kau tak biarkan aku pergi dari sini. Dari tempat dimana aku harus berjuang untuk masa depan banyak orang tapi aku dicaci dan dihina oleh sebagian dari mereka?? Apa sebenarnya maumu Tuhan..” rengekku lelah dalam sedihku yang mendalam.
Aku terhimpit. Aku sakit sampai tak bisa lagi aku menjerit.
***
Dear diary..
Hi dear, I have something good tonight. This is it..
Seorang anak mengemudikan mobilnya bersama ibunya. Setelah beberapa puluh kilometre tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Beberapa kendaraan mulai berhenti dan menepi.
“bagaimana Bu? Kita berhenti?” si anak bertanya. “Teruslah..!” kata ibu. Anaknya tetap menjalankan mobil. Langit makin gelap. Angin bertiup kencang. Hujan pun turun. Beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yang diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Terlihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.
“Teruslah mengemudi!” kata Ibu sambil terus melihat ke depan.
Anaknya tetap mengemudi dengan bersusah payah. Hujan lebat menghalangi pandangan hanya berjarak beberapa meter saja. Si anak mulai taku. Namun.. tetap mengemudi walaupun sangat perlahan.
Setelah melewati beberapa kilo ke depan, dirasakan hujan mulai mereda dan angin mulai berkurang. Setelah beberapa kilometer lagi, sampailah mereka pada daerah yang kering dan matahari bersinar.
“Silahkan berhenti dan keluarlah!” Kata Ibu
“Kenapa sekarang?” Tanyanya.
“Agar kau bisa melihat seandainya berhenti di tengah badai”
Sang anak berhenti dan keluar. Dia melihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Dia membayangkan orang-orang yang terjebak di sana. Dia baru mengerti bahwa jangan pernah berhenti di tengah badai karena akan terjebak dalam ketidak pastian.
Jika kita sedang menghadapi “BADAI” kehidupan, TERUSLAH berjalan, JANGAN berhenti dan putus asa karena kita akan tenggelam dalam keadaan yang terus menakutkan. LAKUKAN saja apa yang dapat kita lakukan, dan yakinkan diri bahwa BADAI PASTI BERLALU. KITA tidak akan pernah berhenti tetapi maju terus, karena kita yakin bahwa di depan sana kepastian dan kesuksesan ada untuk kita..
Jangan selesaikan masalah dengan mengeluh, berkeluh kesah dan marah-marah. Selesaikan saja dengan bersyukur, sabar dan jangan lupa tersenyum. Teruslah melangkah walau mendapat rintangan, jangan takut..
Saat tidak ada lagi tembok untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud…
Perbuatan baik yang paling sempurna adalah perbuatan baik yang tidak – terlihat, namun.. dapat dirasakan hingga jauh ke Relung Hati.
Jangan menghitung apa yang hilang, namun hitunglah apa yang tersisa. Sekecil apapun penghasilan kita pasti akan cukup bila digunakan untuk Kebutuhan Hidup. Sebesar apapun penghasilan kita pasti akan kurang bila digunakan untuk Gaya Hidup.
Tidak selamanya kata-kata yang indah itu benar, juga tidak selamanya kata-kata yang menyakitkan itu salah.
Hidup ini terlalu singkat, lepaskan mereka yang menyakitimu, sayangi mereka yang peduli padamu. Dan berjuanglah untuk mereka yang berarti bagimu.
Bertemanlah dengan semua orang, tapi bergaullah dengan orang yang berintegritas dan mempunyai nilai hidup yang benar, karena pergaulan akan mempengaruhi cara kita hidup dan masa depan kita.
21:06
Dari salah satu grup dalam media sosial kudapatkan kisah bijak itu. Dan tak berhenti disitu saja. Motivasi kembali kudapat sembari tersenyum ringan kubacanya:
Imam Syafi’I berkata:
Kehebatan seseorang terdapat pada tiga perkara
1. Kemampuan menyembunyikan kemelaratan, sehingga orang lain menyangkamu berkecukupan karena kamu tidak pernah meminta.
2. Kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang mengiramu merasa ridha.
3. Kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengiramu selalu senang[2]
Sampai di sini aku yakin bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam menggoreskan tintaNYA. Hanya akulah yang suka salah dalam membacanya.
Dimana ketika aku meyakinkan diriku sendiri untuk pergi dari semua ini, tanah tempatku lahir sepertinya tak membiarkanku pergi begitu saja. Ketika aku ingin diam dari segala sesuatu yang baik dan buruk, Tuhan seakan menyibukkanku dengan kebaikan-kebaikan yang tak ternilai harganya. Aku seperti sedang menggenggam mutiara yang dibungkus bara api.
Setiap hari bersamaku yang hancur ini, bersama badai yang masih berjalan. Habis waktu dan energiku untuk duduk bersama para pejuang kebaikan. Baik itu guru sekolah dan agama. Baik itu para kiyai dan para aparatur desa. Siang malam bahkan tak kenal waktu, aku kerjakan sendiri segala bentuk administrasi untuk menyediakan tempat yang baik bagi masa depan para pelajar di desa ku ini.
Sering kutertawakan diriku sendiri, karena sejatinya bagiku aku ini hancur, sudah hancur. tapi sepertinya Tuhan tidak membiarkanku hancur begitu saja. Ibarat sebuah kisah, layaknya diri ini didorong masuk ke dalam jurang tapi masih diberi pegangang agar tak jatuh. Yah, ketika dunia ini bersandiwara sebagai manusia biasa aku hanya bisa mengikuti alurnya dan tentu sebagai aktor yang dilihat banyak orang. Hehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar