Saat-saat Terakhir Muhammad Rasulullah
Demam itu, demam yang pertama… demam yang terakhir…
Bagi Rasul terakhir…
Jam itu… adalah jam-jam penghabisan…
Bagi utusan penghabisan…
Dalam demam yang mencekam…
Betapa sabar… kau terbaring di selembar tikar…
Dalam jam… jam yang mencekam…
Betapa dalam lautan pasrahmu…
Hanya kulihat matamu berisyarat…
Adakah gerangan yang ingin kau pesankan… dalam jam-jam penghabisan…
Wahai… nabi pilihan…
Maka… kuhampirkan telingaku yang kanan di mulutmu yang suci…
Maka kudengar ucapmu pelan
Di bawah tikar… ada Sembilan dinnar
Tolong… tolong sedekahkan sesegera mungkin
Kepada fakir miskin
Mengapa yang sembilan dinar…
Mengapa itu benar…
Mengapa… mengapa itu yang membuatmu resah, wahai Rasulullah
Sebab… ke mana nanti kusembunyikan wajahku ke hadirat Illahi
Bila aku menghadap… Dia tahu, aku meninggalkan bumi dengan memiliki duit
Biar sedikit… biar cuma sembilan dinar
Ke bumi… aku diutus…
Memberikan arah ke jalan yang lurus
Tugasku… tugasku tak hanya menyampaikan pesan
Tugasku juga adalah sebagai teladan…
Bagi segala yang mencintai Tuhan…
Lebih dari segala dinar… lebih dari segala yang lain…
Miskin aku datang… biarlah… biarlah miskin aku pulang
Bersih aku lahir, biarlah… bersih hingga detik terakhir
Sembilan dinar pelan-pelan kuambil di bawah tikar
Bergegas aku keluar dari kamarmu yang sempit…
Kamarmu yang amat sederhana…
Bergegas aku ke lorong-lorong sempit
Di atas tanah pasir jalan Madinah
Mensedekahkan… dinar yang sembilan…
Kepada orang-orang miskin seperti kau…
Kepada orang-orang yang sangat kau cintai
Orang-orang yatim seperti kau…
Dan… demam itu…
Demam yang pertama… demam yang terakhir… bagi Rasul terakhir…
Dan jam itu adalah… jam penghabisan… bagi utusan penghabisan…
Muhammad… kau tak di situ lagi… di tubuh itu…
Tinggal senyum di bibirmu…
Tinggal teduh… di wajahmu…
Rasulullah…
Miskin kau datang… miskin kau pulang…
Bersih kau lahir… bersih… hingga… detik terakhir…
-Husni Jamaludin dalam book story of Fatih Beeman-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar