Senin, 13 Juli 2020

PUISI UNTUK SANG NABI MUHAMMAD SAW

Saat-saat Terakhir Muhammad Rasulullah


Demam itu, demam yang pertama… demam yang terakhir…

Bagi Rasul terakhir…

Jam itu… adalah jam-jam penghabisan…

Bagi utusan penghabisan…

 

Dalam demam yang mencekam…

Betapa sabar… kau terbaring di selembar tikar…

Dalam jam… jam yang mencekam…

Betapa dalam lautan pasrahmu…

Hanya kulihat matamu berisyarat…

Adakah gerangan yang ingin kau pesankan… dalam jam-jam penghabisan…

Wahai… nabi pilihan…

Maka… kuhampirkan telingaku yang kanan di mulutmu yang suci…

Maka kudengar ucapmu pelan

 

Di bawah tikar… ada Sembilan dinnar

Tolong… tolong sedekahkan sesegera mungkin

Kepada fakir miskin

 

Mengapa yang sembilan dinar…

Mengapa itu benar…

Mengapa… mengapa itu yang membuatmu resah, wahai Rasulullah

 

Sebab… ke mana nanti kusembunyikan wajahku ke hadirat Illahi

Bila aku menghadap… Dia tahu, aku meninggalkan bumi dengan memiliki duit

Biar sedikit… biar cuma sembilan dinar

Ke bumi… aku diutus…

Memberikan arah ke jalan yang lurus

Tugasku… tugasku tak hanya menyampaikan pesan

Tugasku juga adalah sebagai teladan…

Bagi segala yang mencintai Tuhan…

Lebih dari segala dinar… lebih dari segala yang lain…

Miskin aku datang… biarlah… biarlah miskin aku pulang

Bersih aku lahir, biarlah… bersih hingga detik terakhir

 

Sembilan dinar pelan-pelan kuambil di bawah tikar

Bergegas aku keluar dari kamarmu yang sempit…

Kamarmu yang amat sederhana…

Bergegas aku ke lorong-lorong sempit

Di atas tanah pasir jalan Madinah

Mensedekahkan… dinar yang sembilan…

Kepada orang-orang miskin seperti kau…

Kepada orang-orang yang sangat kau cintai

Orang-orang yatim seperti kau…

 

Dan… demam itu…

Demam yang pertama… demam yang terakhir… bagi Rasul terakhir…

Dan jam itu adalah… jam penghabisan… bagi utusan penghabisan…

 

Muhammad… kau tak di situ lagi… di tubuh itu…

Tinggal senyum di bibirmu…

Tinggal teduh… di wajahmu…

Rasulullah…

Miskin kau datang… miskin kau pulang…

Bersih kau lahir… bersih… hingga… detik terakhir…

 

-Husni Jamaludin dalam book story of Fatih Beeman-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar